Minggu, 11 Oktober 2015

RESUME PEMASARAN II : MENENTUKAN STRATEGI PRODUK



Kelompok 2 :
1.      Dewi Karomah
2.      Nur Fatonah

Kelas : IV R C
Dosen Pengampu : Sulis Riptono, M.M


MENENTUKAN STRATEGI PRODUK

A.    PRODUK
Produk menurut Philip Kotler adalah: “segala sesuatu yang ditawarkan ke pasar untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan” (1997:52). Basu Swastha dan Irawan, menyatakan bahwa produk adalah: ”suatu sifat kompleks, baik dapat diraba maupun tidak diraba, termasuk bungkus, warna, harga, prestise perusahaan, pelayanan pengusaha dan pengecer, yang diterima pembeli untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan” (1990:165). Fandy Tjiptono mengartikan produk sebagai: “segala sesuatu yang ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli, digunakan/dikonsumsi pasar sebagai pemenuh kebutuhan/keinginan pasar yang bersangkutan” (1999:95). Produk yang ditawarkan tersebut meliputi: barang fisik, jasa, orang/pribadi, organisasi, dan ide. Secara lebih rinci, konsep produk meliputi: barang, kemasan, merk, warna, label, harga, kualitas, pelayanan dan jaminan.
Selama ini banyak penjual melakukan kesalahan dengan memberikan perhatian lebih banyak pada produk fisik daripada manfaat yang dihasilkan dari produknya. Mereka menempatkan diri lebih dari sebagai penjual daripada memberikan pemecahan kebutuhan. Padahal perusahaan harus berpusat pada kebutuhan pelanggan, bukan hanya pada keinginan yang sudah ada. Hal ini dikarenakan produk merupakan alat untuk memecahkan masalah konsumen.

1.      Tingkatan Produk Yang Dapat Memberi Kepuasan Konsumen


  
a.       Manfaat inti (core benefit)
Layanan atau manfaat mendasar yang sesungguhnya dibeli pelanggan. Seorang tamu hotel membeli ”istirahat dan tidur”. Pemasar harus memandang dirinya sebagai penyedia manfaat.
b.      Produk dasar (basic product)
Pemasar harus mengubah  manfaat inti tersebut menjadi produk dasar. Dengan demikian, kamar hotel meliputi tempat tidus, kamar mandi, handuk, meja tulis, meja rias, dan lemari pakaian.
c.       Produk yang diharapkan (expected product)
Beberapa atribut dan kondisi yang biasanya diharapkan pembeli ketika mereka membeli produk ini. Tamu hotel mengharapakan tempat tidur yang bersih, handuk yang bersih, lampu baca, dan kadar ketenangan tertentu.
d.      Produk yang ditingkatkan (augmented product)
Pemasar menyiapkan produk yang melampaui harapan pelanggan. Di negara-negara yang sudha berkembang, persaingan dan penentuan posisi merek berlangsung pada tingkat ini. Akan tetapi di negara-negara yang sedang berkembang dan pasar yang sednag naik daun seperti Cina dan India, kebanyakan persaingan berlangsung pada tingkat produk yang diharapkan. Beberapa hal yang harus diperhatikan mengenai strategi peningkatan produk adalah :
·         Setiap peningkatan menimbulkan biaya.
·         Manfaat yang ditingkatkan akan segera menjadi manfaat yang diharapkan.
·         Pada saat perusahaan menaikkan harga untuk produk yang telah mereka tingkatkan, sebagian pesaing menawarkan jenis produk yang telah ”dipreteli” dengan harga yang jauh lebih trendah.
e.       Calon produk (potential product)
Meliputi segala kemungkinan peningkatan dan perubahan yang mungkin akan dialami produk atau tawaran tersebut pada masa mendatang.

2.      Hirarki Produk
a)      Need family. Kebutuhan inti yang mendasari keluarga produk, misalnya keselamatan.
b)      Product family. Seluruh kelas produk yang dapat memberikan rasa aman.Misalnya tabungan dan pendapatan.
c)      Product class. Sekelompok produk bersama dengan keluarga produk yang dikenal karena mempunyai koherensi fungsional.
d)     Product line. Sekelompok produk pada kelas produk yangberhubungan satu dengan lainnya karena kinerjanya mempunyai fungsi yang sama, misalnya asuransi.
e)      Product type. Sekelompok produk dalam lini produk yang dapat digunakan menjadi satu dari berbagai kemungkinan lini produk. Misalnya asuransi jiwa.
f)       Item. Bentuk berbeda dengan merek atau lini produk yang dibedakan oleh ukuran, harga, pertampakan, atau oleh beberapa atribut lainnya. Contohnya asuransi untuk semua jenis pertanggungan.

3.      Klasifikasi Produk
Klasifikasi produk biasanya dilakukan berdasarkan beberapa sudut pandang, namun secara umum produk dapat dibagi 2 yaitu:
a.      Barang
Barang menurut Fandy Tjiptono adalah “produk yang berwujud fisik sehingga dapat bisa dilihat, disentuh, dirasa, dipegang, disimpan, dan perlakuan fisik lainnya” (1999:98). Ditinjau dari daya tahannya, terdapat dua macam barang yaitu:
1)      Barang tahan lama (durable goods). Merupakan barang berwujud yang biasanya bisa tahan lama dengan banyak pemakaian, atau umur ekonomisnya untuk pemakaian normal satu tahun atau lebih. Contoh: lemari es dan televisi.
2)      Bahan tidak tahan lama (non durable goods). Merupakan barang berwujud yang biasanya habis dikonsumsi dalam satu kali pemakaian, atau umur ekonomisnya dalam pemakaian normal kurang dari sattu tahun. Contoh: sabun mandi dan makanan.
b.      Jasa.
Jasa menurut Philip Kotler adalah “setiap tindakan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain. Pada dasarnya jasa tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun” (1992:45). Contoh : Salon kecantikan, bengkel perbaikan mobil, kursus-kursus.

Produk juga dapat diklasifikasikan berdasarkan konsumennya dan untuk apa produk tersebut dikonsumsi. Berdasarkan kriteria ini produk dapat diklasifikasi menjadi :
a.      Barang Konsumsi
-          Barang Konsumsi (Convenience Goods)
Convenience Goods merupakan barang yang pada umumnya memiliki frekuensi pembelian yang tinggi (sering dibeli), dibutuhkan dalam waktu segera dan memerlukan usaha yang minimum dalam perbandingan dan pembelianya. Contohnya: rokok, sabun mandi, pasta gigi, dan permen.
-          Barang Belanjaan (Shooping Goods)
Shooping goods adalah barang yang proses pemilihan dan pembeliannya, dibandingkan oleh konsumen diantara berbagai alternatif yang tersedia. Kriteria pembanding meliputi harga, kualitas, dan model masing-masing. Contohnya: alat rumah tangga, pakaian, dan kosmetik.
-          Barang Spesial (Speciality goods)
Speciality goods adalah barang yang memiliki karakteristik atau identifikasi merek yang unik dimana sekelompok konsumen bersedia melakukan usaha khusus untuk membelinya. Umumnya jenis barang ini terdiri atas barang-barang mewah, dengan merek dan model yang spesifik, seperti mobil jaguar dan pakaian desain terkenal.
-          Barang Yang Tidak Dicari (Unsought goods)
Unsought goods adalah barang yang tidak diketahui oleh konsumen atau kalaupun sudah diketahui oleh konsumen, konsumen belum tentu tertarik untuk membelinya. Contohnya: batu nisan, ensiklopedi, dan tanah pekuburan.
b.      Barang Industri
-          Bahan baku dan suku cadang (materials and parts).
Adalah barang-barang yang seluruhnya masuk ke produsen tersebut. Barang-barang
ini terbagi menjadi dua kelompok:
·         Bahan mentah terdiri dari produk pertanian dan produk alam (kayu, biji besi dll).
·         Bahan baku dan suku cadang terdiri dari bahan baku komponen (besi, semen, kabel, benang dll) dan suku cadang komponen (ban cetakan, mesin kecil dll).
-          Barang modal (capital items).
Adalah barang-barang tahan lama yang memudahkan pengembangan atau pengelolaan produk jadi. Barang modal terdiri dari dua kelompok yaitu;
§  Instalasi (pabrik, kantor) dibeli melalui negosiasi panjang.
§  Peralatan meliputi peralatan kantor dan perkakas pabrik yang dapat dipindahkan.
-          Perlengkapan dan layanan bisnis (supplies and business service).
Adalah barang dan jasa berumur pendek, memudahkan pengembangan atau pengelolaan produk jadi. Meliputi layanan pemeliharaan dan perbaikan (pembersihan jendela, perbaikan mesin fotokopi) dan layanan konsultasi bisnis (hukum, konsultasi manajemen, iklan). Terdiri dari dua jenis;
Ø  Barang pemeliharaan dan perbaikan (cat, paku, sapu).
Ø  Perlengkapan operasional ( pelumas, batubara, kertas tulis, pensil)

B.     KEPUTUSAN-KEPUTUSAN MENGENAI BAURAN PRODUK
Sistem produk adalah sekelompok barang berbeda, tetapi saling berhubungan yang berfungsi dengan cara saling melengkapi. Bauran produk adalah kumpulan seluruh produk dan barang yang ditawarkan penjual tertentu kepada pembeli. Bauran produk suatu perusahaan memiliki lebar, panjang, kedalaman, dan konsistensi tertentu.
§  Lebar suatu bauran produk mengacu pada berapa banyak lini produk yang berbeda dimiliki perusahaan tersebut.
§  Kedalaman suatu bauran produk mengacu pada jumlah seluruh barang dalam bauran tersebut.
§  Keluasan suatu bauran prouk mengacu pada berapa banyak jenis yang ditawarkan masing-masing produk dalam lini tersebut.
§  Konsistensi bauran produk mengacu pada seberapa erat hubungan berbagai lini produk dalam penggunaan akhir, ketentuan produksi, saluran distribusi, atau hal-hal lain.
Keempat dimensi bauran produk ini memungkinkan perusahaan memperluas bisnisnya melalui empat cara.
1.      Menambah lini produk baru, sehingga memperlebar bauran produknya.
2.      Memperpanjang setiap lini produk.
3.      Menambah lebih banyak jenis produk ke dalam setiap produk dan memperdalam bauran produknya.
4.      Mengejar lebih banyak konsistensi lini produk. Untuk mengambil keputusan merek dan produk ini, perusahaan perlu melakukan analisis lini produk.

C.    KEPUTUSAN-KEPUTUSAN MENGENAI LINI PRODUK

1.      Analisis Lini Produk
Dalam menawarkan lini produk, perusahaan biasanya menciptakan platform dan modul dasar yang dapat ditambahkan untuk memenuhi tuntutan pelanggan. Manajer-manajer lini produk perlu mengetahui penjualan dan laba setiap barang dalam lininya untuk menentukan barang mana yang harus dikembangkan, dipertahankan, diambil hasilnya, atau dilepaskan. Mereka juga perlu memahami profil pasar setiap lini produk. Analisis lini produk memberikan informasi tentang dua bidang keputusan penting yaitu panjangnya lini produk dan penetapan harga bauran produk.

Ø  Penjualan Dan Laba
Setiap portofolio produk perusahaan mengandung produk dengan margin yang berbeda. Toko serba ada hampir tidak menghasilkan margin dari roti dan susu; margin yang lumayan besar dihasilkan dari makanan kaleng dan beku; dan bahkan margin yang lebih besar diperoleh dari kembang, lini makanan etnis, dan makanan panggang yang segar.
Suatu perusahaan dapat menggolongkan produknya menjadi empat tipe yang menghasilkan margin kotor berbeda, yang bergantung pada volume penjualan dan promosinya.
a.       Produk inti. Komputer dsar yang menghasilkan volume penjualan yang tinggi dan sangat gencar dipromosikan tetapi mempunyai margin yang rendah karena dipandang sebagai komoditas yang tidak terdeferensiasi.
b.      Kebutuhan pokok. Barang dengan volume penjualan yang lebih rendah dan tanpa promosi, seperti CPU yang lebih cepat atau memori yang lebih besar. Barang ini menghasilkan margin yang agak lebih tinggi.
c.       Kekhususan. Barang yang volume penjualannya lebih rendah, tetapi mungkin sangat gencar dipromosikan, seperti peralatan pembuatan film digital.
d.      Barang kemudahan. Barang tambahan yang terjual dengan volume tinggi, tetapi kurang mendapatkan promosi. Contoh; monitor, printer, piranti lunak.  
Maksud utamanya adalah bahwa perusahaan-perusahaan seharusnya mengakui bahwa barangnya berbeda dalam potensinya untuk dikenakan harga yang lebih tinggi atau lebih banyak diiklankan sebagai cara untuk meningkatkan penjualan, margin atau keduanya.

Ø  Profil Pasar
Manajer lini produk harus menganalisis bagaimana lini tersebut diposisikan terhadap lini pesaing. Perlu dilakukan pemetaan produk yaitu mengidentifikasi segmen pasar untuk mengetahui posisi produk yang ditawarkan perusahaan.

2.      Panjang Lini Produk
Tujuan perusahaan adalah mempengaruhi panjang lini produk. Lini produk cenderung makin memanjang lama-kelamaan. Kelebihan kapasitas produksi menimbulkan tekanan bagi manajer lini produk untuk mengembangkan jenis-jenis produk baru. Suatu perusahaan dapat memperpanjang lini produknya dengan dua cara; merentangkan lini dan mengisi lini.
a.      Perentangan Lini
o   Perentangan Ke Pasar Bawah.
Suatu perusahaan yang berada di pasar menengah ingin memperkenalkan lini dnegan harga yang lebih rendah karena salah satu dari ketiga alasan berikut;
a.       Mengamati bahwa pembeli yang menginginkan barang dengan harga yang sesuai dengan nilainya, bertambah jumlahnya.
b.      Untuk membatasi gerakan pesaing yang mencoba untuk beralih ke pasar lapis atas.
c.       Telah menemukan bahwa pasar menengah sedang mengalami stagnasi atau mundur.
o   Perentangan Ke Pasar Atas.
Perusahaan ingin memperoleh pertumbuhan yang lebih besar, margin laba yang lebih tinggi, atau sekedar memposisikan diri sebagai produsen lini lengkap. Banyak pasar telah mempelopori segmen kelas atas yang mengejutkan (Starbucks dalam kopi, Haagen Dazs dalam es krim dll).
o   Perentangan dua arah.
Texas Instruments (TI) merentangkan produknya dua arah dan dapat merebut kepemimpinan pasar kalkulator saku.
b.      Pengisian Lini (Line Filling)
Lini produk juga dapat diperpanjang dengan menambah lebih banyak jenis produk dalam rentang lini sekarang. Motif untuk melakukan hal ini adalah; memperoleh tambahan laba, berupaya memanfaatkan kapasitas yang berlebihan, berupaya menjadi perusahaan terdepan dengan lini lengkap; dan mencoba menutup lubang agar tidak diisi pesaing.
c.       Modernisasi Lini, Penonjolan Jenis Produk dan Pemangkasan.
Lini produk perlu dimodernisasi. Dalam pasar yang berubah cepat, modernisasi dilakukan terus menerus. Manajer lini produk tersebut biasanya memilih satu atau beberapa jenis produk dalam lini itu untuk ditonjolkan. Secara berkala harus mempelajari lini untuk melihat produk yang tidka menghasilkan lagi sehingga menekan laba. Pemangkasan juga dilakukan apabila perusahan mengalami kekurangan kapasitas.
d.      Penetapan Harga Bauran (Product Mix  Pricing)
Menggambarkan konsep penetapan harga, taktik secara rinci, namun perlu mempertimbangkan beberapa isu penetapan harga bauran produk di sini. Perusahaan mencari beberapa harga yang  memaksimalkan laba dari seluruh bauran.
Kita dapat membedakan enam keadaan yang melibatkan penetapan harga bauran produk.
1)      Penetapan harga lini produk (product lini pricing).
Perusahaan biasanya mengembangkan lini-lini produk alih-alih hanya satu produk dan  memperkenalkan tahap-tahap harga.
2)      Penetapan harga ciri pilihan (optional feature pricing).
Banyak restoran menetapkan harga yang tinggi untuk minumannya dan harga yang rendah untuk makanannya. Pendapatan dari makanan menutupi biaya dan minuman menghasilkan laba. Hal ini menjelaskan mengapa pelayan sering mendesak habis-habisan agar pelanggan memesan minuman. Untuk menarik kelompok peminum, bisa dilakukan sebaliknya.
3)      Penetapan harga produk pelengkap (captive product pricing).
Beberapa produk memerlukan penggunaan produk tambahan atau produk pelengkap. Terdapat bahaya dalam menetapkan harga produk pelengkap terlalu tinggi. Caterpillar memperoleh laba yang tinggi untuk suku cadang dan layanannya. Hal ini melahirkan para ”pembajak” yang memalsukan suku cadang dan ”montir jalanan” yang lebih murah.
4)      Penetapan harga dua bagian (two part pricing).
Perusahaan jasa menggunakan penetapan ini yang terdiri atas tarif tetap ditambah biaya pemakaian yang tidak tetap. Perusahaan jasa menghadapi masalah yang mirip dengan penetapan harga produk pelengkap. Tarif tetap cukup rendah untuk laba yang maksimal.
5)      Penetapan harga produk sampingan (by produk pricing).
Produksi barang tertentu (minyak bumi dll) sering menghasilkan produk sampingan. Setiap pendapatan yang diperoleh dari produk sampingan akan memudahkan pengenaan harga yang lebih rendah untuk produk utamanya.
6)      Penetapan harga penggabungan produk (product bundling pricing).
Perusahaan sering menggabungkan produk-produk dengan ciri khas barang (feature). Studi-studi telah menunjukkan bahwa ketika kegiatan promosi meningkat pada butir-butir individual dalam gabungan tersebut, pembeli merasa kurang berhemat dan kurang tepat untuk membayar harga gabungan. Riset menawarkan tiga pedoman strategi penggabungan.
-          Harga gabungan harus lebih rendah dibanding jumlah produk individual.
-          Susunlah promosi, satu sesudah yang lain, untuk menghindari konflik promosi.
-          Harus bijaksana memberikan rabat untuk produk individual karena konsumen menggunakan harga produk individual sebagai rujukan eksternal.

D.    KEPUTUSAN MENGENAI PRODUK TERTENTU

1.      Atribut Produk
Atribut produk menurut adalah unsur-unsur produk yang dipandang penting oleh konsumen dan dijadikan dasar pengambilan keputusan pembelian. Perangkat yang diperlukan pada atribut produk :
a.      Kualitas (Quality)
Menurut Kotler dan Amstrong (2004:347) definisi kualitas adalah kemampuaan suatu produk untuk melaksanankan funsi-fungsinya, yang termasuk didalamnya adalah ketahanan produk, keandalan, kemudahan dalam pengopasiaan, perbaikan, dan atribut-atribut lain yang bernilai.  
Kualitas memiliki dua dimensi yaitu tingkat dan konsistensi. Kualitas yang tinggi dapat menyampaikan tingkat mutu yang ditargetkan kepada pelanggan, sehingga kualitas menyampaikan tidak adanya kerusakan dan kelainan.Semua perusahaan harus berusaha untuk dapat memenuhi konsistensi kualitas tingkat tinggi.
b.      Ciri-Ciri Produk
Menurut Kotler dan Amstrong (2004:347) Ciri adalah karakteristik yang melengkapi fungsi dasar produk, manfaat-manfaat tersebut dikomunikasikan melalui atribut-atribut seperti kualitas (quality), desain (design), fitur (featurs).
Secara konteksual ciri adalah karateristik yang melengkapi fungsi dasar produk.Perusahaan dapat menciptakian model-model baru yang lebih baik dengan menambahkan ciri.Ciri atau keistimewaan merupakan sarana kompetitif untuk membedakan produk perusahaan dari produk pesaing.
c.       Desain Produk
Cara lain untuk menambahkan nilai bagi pelanggan adalah melalui gaya dan desain produk yang khas. Desain dapat menjadi alat persaingan yang sangat baik bagi armada pemasaran perusahaan. Desain yang baik dapat memberikan kontribusi dalam hal kegunaan produk dan juga penampilannya. Gaya dan desain yang baik dapat menarik perhatian, meningkatkan kinerja produk, memotong biaya produksi dan memberikan keunggulan bersaing di pasar sasaran.

2.      Pemberian Merek
Beberapa pengertian mengenai merek :
a.       Merek (brand). Suatu nama, istilah, tanda, lambang, atau desain, atau gabungan semua yang diharapkan mengidentifikasi barang atau jasa dari seorang penjual atau sekelompok penjual, dan diharapkan akan membedakan barang atau jasa dari produk-produk milik pesaing.
b.      Nama merek (brand name). Sebagian dari merek, dan yang dapat diucapkan. Misalnya : Nokia, Samsung, Chevrolet, dll.
c.       Tanda merek (brand mark. Sebagian dari merek yang dapat dikenali namun tidak dapat diucapkan, seperti misalnya lambang, desain, logo, huruf atau warna khusus.
d.      Tanda merek dagang (trademark). Merek atau sebagian dari merek yang dilindungi oleh hukum karena kemampuannya untuk menghasilkan sesuatu yang istimewa.
e.       Hak cipta (copyright). Hak istimewa yang dilindungi oleh undang-undang untuk memproduksi, menerbitkan dan menjual karya tulis, karya musik atau karya seni.
Tujuan pemberian merek :
-          Sebagai identitas, yang bermanfaat dalam diferensi atau membedakan produk suatu perusahaan dengan produk pesaingnya. Ini memudahkan konsumen untuk menegnalinyasaat berbelanja dan saat melakukan pembelian ulang
-          Alat promosi, yaitu sebgai daya tarik produk
-          Untuk membina citra, yaitu dengan memberikan keyakinan, jaminan kualitas kepada konsumen
-          Untuk mengendalikan pasar
Beberapa persyaratan yang harus diperhatikan dalam keputusan mengenai merek yaitu :
o   Merek harus khusus dan unik.
o   Merek harus menggambarkan sesuatu mengenai manfaat produk dan pemakainya.
o   Merek harus mengambarkan kualitas produk.
o   Merek tidak boleh mengandung arti yang buruk di Negara dan bahasa lain.
o   Merek harus dapat menyusuaikan diri (adaptable) dengan produk baru yang mungkin ditambah ke dalam lini produk.

3.      Kemasan
Merupakan kegiatan merancang dan memproduksi wadah untuk produk. Kemasan bisa mencakup tiga tingkat bahan. Botol sebagai kemasan primer dimasukkan ke dalam kotak karton (kemasan sekunder) yang terdapat dalam kotak pengiriman (biasanya berisi enam lusin). Kemasan merupakan hal pertama yang dihadapi pembeli menyangkut produk dan mampu mengubah calon pembeli untuk membeli atau tidak.
Berbagai faktor telah berperan dalam meningkatnya penggunaan kemasan sebagai alat pemasaran :
ü  Swalayan
Dalam toko serbaada yang menyediakan 15.000 jenis produk, pengunjung toko biasanya melewati sekitar 300 jenis produk per menit. Mengingat bahwa 53% dari seluruh pembelian dilakukan karena dorongan hati, kemasan yang efektif harus melakukan banyak tugas penjualan; menarik perhatian, menjelaskan fitur produk tersebut, mneciptakan keyakinan konsumen, dan memberi kesan yang menyenagkan secara keseluruhan. Contoh; pelanggan sering secara harafiah memilih buku berdasarkan sampulnya.
ü  Kemakmuran konsumen
Meningkatnya kemkmuran konsumen berarti konsumen bersedia membayar sedikit lebih mahal untuk kenyamanan, penampilan, keandalan, dan gengsi kemasan yang lebih baik.
ü  Citra perusahaan dan merek
Kemasan berperan bagi pengakuan langsung terhadap perusahaan atau merek tersebut.
ü  Peluang inovasi.
Pengemasan yang inovatif dapat memberikan manfaat yang besar bagi konsumen dan laba   bagi produsen. Produsen menggabungkan bahan-bahan dan fitur-fitur yang unik seperti semprotan (spray) dan bukaan yang dapat ditutup kembali.
Pengembangan kemasan yang efektif membutuhkan beberapa keputusan. Dari perspektif perusahaan maupun pelanggan, pengemasan harus mencapai sejumlah tujuan.
         Identifikasikan merek.
         Sampaikanlah informasi yang deskriptif dan persuasif.
         Permudahkan proteksi dna transportasi produk.
         Banutlah penyimpanan di rumah
         Bantulah konsumsi produk.

4.      Pemberian Label
Penjual harus memberikan label produknya. Label tersebut mungkin adalah etiket sederhana yang ditempelkan pada produk tersebut atau grafik yang dirancang dengan rumit yang merupakan bagian dari kemasan tersebut. Label tersebut mungkin hanya mencantumkan nama merek atau banyak informasi. Sekalipun penjualnya lebih menyukai label yang sederhana, undang-undang mungkin mengharuskan informasi tambahan.
Sebuah label bisa merupakan bagian dari kemasan, atau bisa pula merupakan etiket (tanda pengenal) yang dicantelkan kepada produk.secara garis besar terdapat tiga macam label,yaitu :
Ø  Brand label, yaitu bnama merek yang diberikan pada produk atau dicantumkan pada kemasan
Ø  Descriptive label, yaitu label label yang memberikan informasi obyektif mengenai penggunaan, konstruksi/pembuatan dan kinerja produk, serta karakteristik-karakteristik lainya yang berhubu\ngan dengan produk
Ø  Grade label, yaitu label yang mengidentifikasi penilai kualitas produk (product’s judged quality) dengan suatu huruf, angka, atau kata.
Label melakukan beberapa fungsi yaitu :
1.      Label tersebut mengidentifikasi produk atau merek.
2.      Mungkin juga menunjukkan kelas produk.
3.      Mungkin menjelaskan proudk; siapa pemuatnya, dimana, kapan, apa kandungannya, bagaimana digunakan, dan bagaimana menggunakannya dengan aman.
4.      Mungkin mempromosikan produk melalui grafik-grafik yang menarik.
5.      Teknologi baru memungkinkan label membungkus ketat seluruh wadah.
6.      Label pasti akan ketinggalan jaman dan perlu diperbarui.